zainul

“Ketika fisika tidak lagi mudah”. Sebuah cerpen.

In Fiksi, Opini on April 17, 2011 at 2:43 pm

Alex buru-buru memasukkan buku catatannya ke dalam tas ransel miliknya, lalu bergegas keluar dari ruang kuliah. Ia jadi orang pertama yang keluar ruangan, beberapa langkah di depan dosen.

Ada perasaan bahagia menghampirinya begitu menginjakkan kaki di luar kelas. Mungkin karena udara yang lebih bersih dibanding udara di dalam kelas yang dipenuhi sisa pernafasan 60-an orang.  Meskipun sebenarnya udara di luar ruangan cukup panas. Bandung makin lama makin panas, pikirnya.

Mungkin juga kebahagiaan itu datang karena sebentar lagi ia akan bertemu dengan seseorang yang spesial di hatinya. Yang jelas bukan karena materi kuliah yang membosankan. Malah, kuliah tadi menarik baginya. Sampai-sampai ia masih ingin kuliah berlanjut. Tapi ia segera sadar ada sesuatu yang lebih penting yang sudah dinantikannya sejak lama. Ia harus ke stasiun kereta menjemput Nadia yang akan datang berkunjung dari Jakarta. “Saya sudah di kereta. Jemput aku, di stasiun kereta itu pukul satu” isi sms dari Nadia.

Nadia temannya sejak kecil. Mereka selalu sekolah di sekolah yang sama. Sejak SD sampai SMA. Kemudian mereka terpaksa berpisah. Alex kuliah fisika di Bandung, sementara Nadia kuliah kedokteran di Jakarta. Karena alasan ini dan itu, sudah setahun lebih mereka tidak bertemu.

Tidak butuh waktu lama menunggu angkot Cisitu-Tegalega. Di dalam angkot ada beberapa orang. Meskipun masih cukup kosong, ia memilih duduk paling belakang. Menurutnya lebih menyenangkan melihat pemandangan lewat kaca belakang.

Materi kuliah tadi masih terbayang-bayang. Ada sesuatu yang masih mengganjal di pikirannya. Persisnya mengenai mekanika kuantum dengan potensial tangga. Saat x<0, potensialnya sama dengan nol, tapi saat x>0 potensialnya lebih besar dari energi total partikel (V>E). Menurut perhitungannya reflektansi untuk partikel yang bergerak dari x<0 pada batas antara dua medium ini sama dengan satu. Artinya semua partikel terpantulkan. Tapi toh ada probabilitas menemukan partikel di x>0, meskipun berkurang secara ekponensial terhadap jarak. Aneh sekali, pikirnya.

Ia baru sadar bahwa sejak tadi pandangan matanya mengarah ke perempuan yang duduk di depannya. Perempuan tersebut cukup cantik, kulitnya putih bersih, rambutnya lurus sebahu. Ia memakai rok yang terlalu pendek sehingga ia terlihat seperti tidak nyaman memakainya. Perempuan itu terlihat berusaha menarik-narik roknya, seolah-olah rok tersebut bisa memanjang. Mungkinkah kelembaban udara membuatnya menyusut? Ah, tidak mungkin. “Saya ini mahasiswa fisika” ia berusaha meyakinkan diri.

Alex merasa bersalah. Mungkin arah pandangannya telah membuat perempuan tersebut merasa tidak nyaman. Jangan-jangan perempuan tersebut menyangka ia pervert, predator pelaku kejahatan seksual.  “Oh tidak”, teriaknya dalam hati. “Aku tidak akan tega menyakiti seorang wanita” pikirnya. Tapi diakuinya, perempuan di depannya memang seksi.

Ia berusaha mengalihkan pandangannya ke kaca belakang angkot. “Indah sekali pemandangannya” katanya dalam hati. Dalam kesemrawutannya, sebenarnya Bandung cukup indah. Sepertinya ia mulai ngaco.

“Konsentrasi! Konsentrasi!”. Ia berusaha memvisualisasikan persamaan Schrodinger, dan solusinya untuk potensial tangga, tapi gagal.  Resistance is futile. “Oh paha putih itu, seperti genit memanggil-manggilku”.

Alex berusaha memikirkan sesuatu untuk mengalihkan pikirannya. Boleh jadi fokus langsung ke fisika dari fokus pada paha terlalu sulit untuk dilakukan. Ia butuh sasaran antara. Ia lalu berusaha mengingat teman-teman sekelasnya waktu SMA. Nama mereka dan posisi duduknya. Ini biasanya berhasil untuk mengalihkan perhatian. Mulai dari paling depan sebelah kiri ada perempuan bernama Anindita. Anindita juga cantik dan putih, paling cantik se-SMA. Rok-nya juga cenderung lebih pendek dari rata-rata. Oh my God. Kok, paha lagi paha lagi.

Tiba-tiba terdengar suara perempuan yang duduk di depannya itu. “Kiri!”. Perempuan itu turun, membayar, dan pergi. Angkot yang ditumpangi Alex mulai bergerak. Melewati perempuan itu yang berjalan di trotoar. Alex masih sempat melihat wajahnya. Tapi pandangan mata perempuan itu ke arah lain. Alex tidak mengerti perasaan yang bergejolak, antara kecewa dan lega.

Tiba-tiba terdengar nada ringtone HP miliknya. Telepon dari Nadia. Langsung ia angkat. “Sayang, saya sudah sampai. Ada di mana?”. Alex berusaha mengamati sekelilingnya.

“Eh, hmm, Tegalega”

“Ha? Tegalega. Ngapain di Tegalega?”

“Eh. hmm. Anu. Tunggu, saya segera ke sana”

Tiba-tiba si Alex terpikir jawaban dari persoalan mekanika kuantum untuk partikel dan potensial tangga tadi. Partikel memang sempat mencapai  x>0 dengan peluang lebih kecil untuk mencapai x yang lebih besar. Tapi pada akhirnya semuanya akan kembali lagi menuju daerah x<0. Makanya reflektansinya sama dengan satu.

“Sayang. Sabar aku segera datang”.

“Kiri, pak!”

(Aku tidak percaya. Dalam kesibukan menyelesaikan paper, juga proposal hibah kompetensi yang deadlinenya semakin dekat, malah menulis ini. Sebenarnya terkait dengan yang ini. Karena novel terlalu panjang, saya bikin cerpens saja. Cerita pendek sekali. Ada disisipkan fisika yang rada teknis, yang dapat mengurangi jumlah pembaca hingga 100%. Tapi tanpa itupun memang tidak ada yang minat kok.  :-) )

  1. numpang ngakak dulu kak sama si alex ini😀 hehe

    lucu2 menarik sekali kak cerpen2 seperti ini, fiksi yang memberikan pandangan nonfiksi menarik🙂

  2. Wah keren! Tokoh Alex-nya lucu. Meski kurang ngerti di bagian fisika-nya. Heuheu

  3. hahahahahahhaha….lucu bANGED….detil n teliti tulisan.a…like it..

  4. […] satunya cerpen tentang Ketika Fisika tidak Lagi Mudah, membacanya sulit membedakan dia itu fisikawan atau sastrawan saking menariknya cerpen itu. […]

  5. Andai dr dulu aku tahu buku ini, mungkin bakalan masuk kls IPA dan akhirnya masuk Elektro jugak, hihiw😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: