zainul

Dimensi cinta dan alam semesta

In Catatan fisika, Fiksi, Opini on Juni 11, 2011 at 11:39 pm

Sayup-sayup terdengar lagu berikut.

“Cintaku sedalam samudera
setinggi langit di angkasa kepadamu” (Cinta mati. Agnes Monica & Ahmad Dhani)

Siapa saja yang belajar fisika sejak SMA tentu tahu bahwa jarak berdimensi panjang. Jadi, cinta berdimensi panjang? Kalau begitu, satuan SI-nya meter. Berikut lanjutannya

“Cintaku sebesar dunia
seluas jagad raya ini kepadamu”

Mulai deh tidak konsisten. Luas itu satuan SI-nya meter kuadrat. Jika ternyata alam semesta berdimensi ruang 3, mestinya satuan SI-nya meter kubik.

Radius dari alam semesta yang tampak (observable universe) kira-kira 46 milyar tahun cahaya. Satu tahun cahaya adalah jarak yang ditempuh cahaya dalam ruang hampa selama satu tahun yaitu 9.5 \times 10^{15} meter. Jadi, dalam meter, radius alam semesta tampak adalah 4.4 \times 10^{26} meter. Bandingkan ini dengan radius bumi yang hanya 6.4\times 10^{6} meter yang dua puluh orde lebih kecil. Oleh karena itu, kata dunia dalam lirik lagu di atas mestinya tidak berarti bumi, karena bumi kecil banget dibanding ukuran jagad raya. Mungkin kata dunia di atas semakna dengan frase “dunia fana” yang dapat diartikan sebagai jagad raya itu sendiri, atau dunia sebagai antonimnya akhirat.

Saat kita melihat bintang-bintang di langit sesungguhnya kita melihat masa lalu. Ini karena cahaya butuh waktu untuk merambat dari bintang asalnya ke bumi. Ambil contoh bintang terdekat, matahari. Matahari yang kita lihat sekarang adalah matahari 8 menit yang lalu, karena butuh waktu 8 menit untuk cahaya merambat dari matahari ke bumi. Bintang terdekat setelah matahari adalah Proxima Centauri butuh waktu 4.24 tahun bagi cahaya untuk mencapai bumi. Jarak ke pusat galaksi kita (Bima Sakti ) 26000 tahun cahaya. Jarak ke galaksi lain misalnya Andromeda 2.5 juta tahun cahaya.

Semakin jauh jarak dari sumber suatu cahaya, semakin jauh dari masa lalu cahaya tersebut berasal.

Oleh karena itu, informasi mengenai alam semesta jauh ke masa lalu, tidak lama setelah Big Bang, dapat diperoleh dari cahaya yang berasal dari jarak yang paling jauh yang masih bisa mencapai kita. Sayangnya ini ada batasnya.

Mengapa demikian?

Umur alam semesta setelah Big Bang berhingga. Mundur ke masa lalu, saat alam semesta kira-kira berumur <300000 tahun, kerapatan materi sangat besar, begitu juga dengan tekanannya. Sebegitu besarnya sehingga elektron, yang muatannya negatif, tidak dapat terikat pada proton, yang muatannya positif, untuk membentuk atom hidrogen, yang netral. Tumbukan dengan partikel lainnya akan segera memutuskan kembali ikatan yang sempat terjalin. Ini persis dengan apa yang terjadi di matahari sekarang.

Dikatakan, elektron-elektron dan proton-proton tersebut dalam fase plasma. Dalam fase ini cahaya tidak bisa bebas pergi jauh-jauh; lintasan bebas rata-ratanya (mean-free-path) sangat pendek. Akibatnya medium dalam fase plasma tidak tembus cahaya (opaque). Contoh: Matahari. Cahaya yang mencapai kita berasal dari permukaan matahari. Cahaya dari pusat matahari harus dihamburkan berkali-kali dari satu muatan ke muatan lainnya, sampai pada saat cahaya tersebut mencapai permukaan matahari, informasi awalnya sudah sulit diidentifikasi.

Jadi saat kira-kira alam semesta berumur <300000 tahun, materi di alam semesta berada dalam fase plasma yang tidak tembus cahaya.  Saat alam semesta cukup dingin, elektron mulai dapat terikat pada proton membentuk atom hidrogen yang netral, sehingga lintasan bebas rata-rata cahaya jadi lebih panjang. Saat di mana elektron dan proton pertama kali membentuk atom hidrogen, disebut sebagai rekombinasi. Selanjutnya alam semesta terus mendingin sehingga populasi dari atom hidrogen semakin bertambah dan populasi elektron dan proton bebas semakin berkurang. Permukaan batas antara alam semesta yang opaque dan alam semesta yang transparan disebut sebagai surface of last scattering. Cahaya yang kita terima dari permukaan batas ini disebut sebagai cosmic microwave background (CMB).

(Gambar kiri dari sini. Gambar kanan dari sini)

Untuk mengakses kondisi alam semesta lebih jauh dari surface of last scattering perlu di gunakan probe yang non-elektromagnetik misalnya neutrino. Para ahli kosmologi dapat menggali informasi mengenai awal alam semesta secara tidak langsung dengan mempelajari spektrum CMB.

Kembali ke masalah cinta. Ada juga lagunya grup band Element yang judulnya “Kekuatan cinta”. Apapula maknanya?

Sepertinya cinta itu semacam interaksi (punya sifat tarik menarik). Interaksi yang berbeda-beda selain punya kekuatan interaksi (coupling constant) yang berbeda juga punya rentang-interaksi (cross-section) yang berbeda pula. Misalnya interaksi-elektromagnetik punya rentang-interaksi yang besar, tapi interaksi-nuklir-kuat punya rentang-interaksi yang sangat pendek seukuran inti atom.

Maka jelaslah sudah apa yang Ahmad Dhani dan Agnes Monica maksud pada lirik lagu di atas. Mereka berusaha menyatakan rentang-interaksi cinta mereka. Misalnya, seseorang bernyanyi “cintaku sejauh Jakarta-Bandung”, artinya jika seumpama ia dan pacarnya terpisah jarak yang lebih besar dari jarak Jakarta-Bandung maka putuslah sudah hubungan mereka.

Peringatan: artikel ini tidak serius.

  1. hihihi cinta itu ternyata lebih rumit dari yg kupikirkan…..-___-

  2. artikel yang lengkap namun membingungkan..😦

  3. hihihi
    kalo lagu “cinta sekonyong konyong koder” punya didi kempot, bagaimana kak?

  4. Menarik Prof…Berarti semua realitas yang dilihat pada satu waktu oleh makhluk dimensi 3 (manusia) adalah potongan kejadian masa lalu. Karena dipengaruhi oleh keterbatasan mata sebagai alat ukur maka kita takkan pernah mampu melihat benda atau makhluk lain yang berdimensi sama (3) secara utuh. Kita hanya mampu melihat dimensi 2,1,0 secara utuh. Dengan asumsi dapat dilihat maka dapat diatur(dimanipulasi), maka kita bisa ambil kesimpulan makhluk yang berdimensi lebih tinggi dapat memanipulasi objek minimal berdimensi sama atau lebih rendah.
    Dengan menggunakan asumsi ini dalam kasus ‘Cinta’ berdimensi berapa? saya memilih untuk mengatakan bahwa cinta berdimensi lebih dari 3, mungkin 4,5,6…dst. Pengecualian untuk “Cinta Laura”..hahaha. Kenapa dimensinya lebih tinggi dari 3? karena cinta tidak dapat dimanipulasi, seseorang tidak dapat mengatur kapan dan kepada siapa dia jatuh cinta hari ini, besok ..dst. Berbeda dengan ‘nafsu’ yang bisa dijadwalkan kapan dan kepada siapa pun yang diinginkan (khusus yang berbayar..hehehe).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: