zainul

Perbedaan

In Opini on Agustus 30, 2011 at 11:17 am

Salah seorang pengurus mesjid berusaha membaca laporan keuangan mesjid. Pencahayaan yang kurang menyulitkannya menunaikan tugasnya itu. Lampu di dekat mimbar memang dimatikan sebelum sholat isya karena laron-laron yang beterbangan. Mereka memutuskan menyalakan lampu itu kembali. Tetap saja sang pengurus mesjid kesulitan membacanya. Tampaknya tulisan tangan pada sehelai kertas digenggamannya memang sulit terbaca. Bendahara mesjid terpaksa turun tangan langsung, membaca tulisan tangannya sendiri.

Tidak seperti malam sebelumnya, tidak ada ceramah malam itu. Meskipun begitu, sholat taraweh tidak segera dilakukan. Mereka semua menunggu. Jadi atau tidaknya sholat taraweh malam itu bergantung pada keputusan pemerintah pusat. Bergantung hasil sidang isbat. Mestinya sudah ada keputusan jam 9 malam WITA.

Beberapa orang memutuskan ke luar duduk di teras mesjid. Yang lainnya terdengar berdiskusi tentang hilal. Salah seorang pengurus mesjid berusaha menyapu laron-laron yang terkapar di lantai.

Mesjid itu memang belum selesai, masih terbuka lebar. Tiga sisi dindingnya belum selesai dibangun. Pada dinding yang terbangun, masih tampak jelas batu bata penyusunnya. Lokasinya yang tepat di tepi pantai memungkinkan kami mengamati kelap kelip lampu nelayan, lampu mercusuar yang kelap-kelip secara periodik dan bintang-bintang di langit. Angin sepoi-sepoi menambah nikmatnya berada di mesjid itu. Saya memutuskan keluar, duduk di tembok penghalang air laut yang tingginya kira-kira setengah meter dari tanah pelataran mesjid dan kira-kira dua meter dari permukaan air laut pada malam itu. Di dekat mesjid ada taman bermain anak-anak. Ada juga dua tiang yang sepertinya untuk bermain voli pantai. Tidak dapat disangkal keeksotikan lokasi mesjid “ini”

Kira-kira 500-an meter dari mesjid “ini” ada mesjid lain yang lebih besar dan lebih megah. Hanya saja mesjid “itu” tidak punya pemandangan sebaik mesjid “ini”, karena dikelilingi rumah penduduk. Mesjid itu sudah berdiri jauh sebelum keluarga kami pindah ke lokasi ini. Sebagian besar jemaah di mesjid “ini” dulunya dari mesjid besar “itu”.

Beberapa bulan yang lalu, imam mesjid “itu” dituduh menselingkuhi istrinya. Ini tidak dapat saya verifikasi. Pengurus mesjid memutuskan beliau tidak pantas lagi menjadi imam. Keputusan yang ditentang sebagian masyarakat di sekitar mesjid. Imam tersebut memang cukup populer. Keindahan cara beliau membaca ayat Al Qur’an tidak dapat diragukan lagi. Bagi sebagian besar pengurus, hal itu tidak penting, yang penting moralitas. Mereka dan sebagian masyarakat menolak menjadi makmum pada Imam tersebut. Pemerintah berusaha menengahi, menunjuk seorang pejabat pemerintah sebagai imam sementara. Sempat juga sholat jum’at sampai dikawal puluhan anggota brimob. Berbagai usaha pemerintah sepertinya gagal.

Ramadan ini, imam yang lama masih menjadi imam mesjid “itu”. Sebagian besar pengurus, dan sebagian masyarakat yang keberatan sebagai makmumnya memutuskan hijrah ke mesjid “ini”. Mesjid “ini” juga punya sejarah yang unik. Mesjid ini dibangun dengan dana pemerintah provinsi. Bulan demi bulan berlalu, pembangunan mesjid “ini” macet. Lama menjadi mesjid jablai, mesjid “ini” kini dipenuhi jemaah yang hijrah dari mesjid “itu”. Termasuk orang tua saya.

Tiba-tiba terdengar suara takbir dari mesjid “itu”. Jemaah mesjid “ini” segera bereaksi. Beberapa orang terlihat mencoba menghubungi keluarganya dengan telepon genggam. Beberapa orang lainnya, mendekati pesawat radio di sudut belakang mesjid, mencoba mendengarkan berita pengumuman pemerintah. Sebagian besar ibu-ibu bergegas meninggalkan mesjid. Jika memang malam itu sudah masuk 1 Syawal, bagi ibu-ibu tersebut, urusan ketersediaan makanan di rumah jauh lebih penting. Salah seorang pengurus mesjid berusaha menenangkan jemaah.

“Harap tenang. Belum ada keputusan pemerintah. Jangan terpengaruh provokasi.”

Kira-kira Seperempat jam sebelum pukul sembilan berita yang ditunggu-tunggu tiba. Pemerintah dipastikan memutuskan lebaran jatuh pada hari rabu 31 Agustus 2011 (1 Syawal mulai selasa malam). Lewat pengeras suara, masyarakat di sekitar mesjid dihimbau untuk kembali ke mesjid, dan bahwa sholat taraweh akan dilakukan pada pukul sembilan malam itu.

Tampaknya yang mengikuti keputusan pemerintah bukan cuma mesjid “ini”, mesjid “itu” sepertinya “menarik kembali” takbiran yang sudah dilakukan. Keputusan pemerintah yang terlambat benar-benar telah membingungkan rakyat.

Ramadan kali ini memang spesial. Untuk kali ini, saya sendiri sulit menerima bahwa perbedaan itu berkah. Bahwa ada perbedaan jumlah hari bulan Ramadan sudah biasa. Sekarang ada perbedaan lain bagi masyarakat sekitar sini. Bergantung jawaban dari pertanyaan “Di mesjid mana keluarga anda sholat jamaah?” Semoga “Maaf lahir batin” tidak menjadi sekedar slogan.

(Tulisan ini diketik dengan menggunakan perangkat lunak wordpress untuk blackberry)

  1. ada foto masjidnya ga oom?

  2. masjid ‘ini’, masjid perlawanan, masjid ‘itu’ masjid status quo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: