zainul

Tentang masa depan, masa lalu, dan mekanika kuantum.

In Catatan fisika, Fiksi on September 11, 2011 at 10:45 am

Ratna sedang bimbang. Ia akan ada kencan. Orang tuanya berusaha menjodohkannya dengan seseorang. Ratna berusaha menghindar dengan alasan sakit perut.

“Pokoknya ganteng deh, cerdas, plus berkepribadian. Mobil pribadi, …” Kata ibunya sedikit bercanda.

“Masalah bibit dan bobotnya tidak perlu diragukan lagi.”

“Dia itu anaknya sahabat kakak ipar sepupumu.” Ratna memutar otak berusaha memvisualisasikan silsilah keluarganya. Informasi yang diberikan ibunya biasanya cuma sebatas ini, selebihnya gelap.

“Ingat, umurmu” Ratna sudah menduga kalimat terakhir ini akan keluar dari mulut ibunya. Sudah terlalu sering terucapkan, dan setiap kali bikin iritasi hati.

“Sekedar kenalan kan?”

Ratna sudah terlanjur bilang iya untuk ketemuan. Tempatnya di rumah adik ibunya. Akan ada acara keluarga, dan sang bakal calon jodoh akan hadir di sana, selain tentu saja dengan puluhan tamu-tamu lainnya.

Alangkah terkejutnya Ratna ketika akhirnya bertemu dengan sang bakal calon jodoh. Ternyata ia adalah seseorang yang Ratna kenal sejak SMA. Namanya Galih.

Singkat cerita, untuk menghindari melodrama yang tidak perlu, dua tahun kemudian Ratna mengiyakan lamaran Galih. Mereka pun menikah, punya anak dua, dan menjalani hidup dengan penuh kebahagiaan.

Dua belas tahun sebelumnya.

Pikiran Ratna sedang galau. Pagi itu ia dapat informasi dari teman sekelasnya bahwa Galih dan keluarganya akan pindah ke kota lain. Katanya hari itu juga.

Ratna tidak percaya bahwa ia justru orang terakhir yang tahu informasi kepindahan Galih. Pikirnya, Kok tega ya Galih tidak pamit kepadanya. Beberapa hari sebelumnya memang Ratna tidak ke sekolah karena harus mengikuti lomba debat bahasa Inggris mewakili sekolah.

Ratna tidak rela kalau akhirnya seperti ini. Penyesalan datang mengapa dulu ia tidak punya keberanian untuk menyatakan. Ia pun membulatkan tekadnya untuk bolos sekolah. Demi cinta, pikirnya. Segera setelah pelajaran pertama berakhir ia cabut.

“Kucingku sekarat.” Alasannya kepada pak penjaga gerbang. Pak penjaga gerbang tidak sempat nanya bagaimana Ratna bisa tahu. Saat itu belum ada teknologi telepon genggam.

Untuk memvisualisasikan bagaimana Ratna tergesa-gesa menuju rumah Galih, pembaca perlu menonton terlebih dahulu film “Ada Apa dengan Cinta”. Ada adegan lari ala Dian Sastro, minus adegan ciuman.

Setibanya di depan rumah Galih, rumah terlihat kosong. Menurut penjual sayur di depan rumah, keluarga Galih pagi-pagi sekali sudah pergi. Hati Ratna hancur berkeping-keping,

Masih dua belas tahun yang lalu.

Galih sedang risau, gelisah bercampur cemas. Selama ini ia selalu menolak untuk ikut pindah.

“Kalian saja yang pindah. Saya tinggal di sini ngekos.” Permintaannya yang akhirnya tidak dikabulkan oleh kedua orang tuanya.

Satu hal yang benar-benar mengganggu, ia belum sempat pamit dengan Ratna, sang pujaan hati.

Galih memang anak pendiam. Bahwa ia akan pindah hanya ia sampaikan pada beberapa teman dekat. Ada sih acara perpisahan dengan teman-teman dekat dan sebenarnya ia ingin sekali Ratna juga hadir di acara perpisahan sederhana itu. Sayangnya hari itu Ratna tidak datang ke sekolah karena ikut lomba mewakili sekolah. Meskipun Ratna pujaan hatinya, ia dan Ratna memang tidak begitu akrab. Galih tidak punya keberanian bahkan untuk sekedar mengajak ngobrol. Galih tidak rela harus berakhir seperti ini, ia kumpulkan keberanian yang tersisa untuk melakukan sesuatu.

“Pak, saya turun di sini deh”

“Ha?” Orang tuanya kebingungan.

“Iya. Turun di sini.”

“Belum sempat pamit dengan seseorang. Nanti sore deh saya menyusul dengan bis.” Sebenarnya kota tujuan mereka tidak dapat ditempuh dengan kendaraan darat. Pelabuhan terdekat sekitar 100 km dari kota ia berada saat ini.  Rencananya mereka menginap dulu di rumah kerabat.

Dalam kebingungan, orang tua Galih mengijinkan.

“Besok jangan sampai ketinggalan kapal.” Pesan ibunya.

Galih buru-buru ke sekolah. Tujuan utamanya bertemu Ratna. Di gerbang depan sekolah ia bertemu pak penjaga gerbang  yang terkejut karena Galih sebenarnya sudah pamit sehari sebelumnya.

“Mau pamit dengan teman sekelas” kata Galih.

“Oh iya, tadi baru saja Ratna pamit pulang.” Pak penjaga gerbang senyum-senyum geje. Galih bingung.

“Kucingnya sekarat.” sambung pak penjaga gerbang yang memang mengenal Ratna sebagai teman sekelas Galih. Galih membatalkan niatnya masuk. Buru-buru ia menuju rumah Ratna.

Setibanya di rumah Ratna, ia mengetuk pintu. Tidak seorang pun yang menjawab. Lama ia menunggu, hingga azan ashar berkumandang, ia  beranjak pergi. Hati Galih hancur berkeping-keping.

***Melodrama berakhir di sini.***

***Mestinya senyum-senyum geli juga berakhir di sini.***

Retrospeksi

Lalu apa kaitannya dengan mekanika kuantum? Sebenarnya sih tidak ada. Sekedar analogi atau semacam appetizer untuk sebuah fenomena kuantum yang akan dijelaskan kemudian. Tapi, yang namanya analogi selalu gagal memberikan gambaran seutuhnya.

Mari kita bahas kisah hidup Galih dan Ratna di atas.

Sebelum Ratna dipertemukan kembali dengan Galih ia bimbang, tidak tahu apakah ia akan menyukai lelaki yang akan dikenalkan kepadanya. Tapi, dengan pertemuan tersebut dan klarifikasi masa lalu di antara mereka, dapat dikatakan bahwa sebenarnya sebelum pertemuan itu pun Ratna sudah  menyukai lelaki yang akan dikenalkan kepadanya, bahkan jauh sebelum ide perjodohan itu muncul. Peristiwa yang terjadi di masa depan mengijinkan kita untuk menginterpretasi ulang kejadian di masa lalu, Ratna bukan bimbang: “superposisi” keadaan-suka dan keadaan-tidak-suka, tetapi murni keadaan-suka. Interpretasi masa lalu ini dapat berbeda, jika misalnya setelah dipertemukan kembali Galih telah kehilangan ketampanannya, atau karena  kriteria Ratna sudah berubah setelah 12 tahun berlalu.

Fisika mestinya terbebas dari interpretasi subjektif masa lalu semacam itu, bukan?

Berikut sebuah eksperimen yang mendemonstrasikan bahwa dalam alam kuantum, yaitu alam kita ini, hasil pengamatan masa kini mempengaruhi interpretasi masa lalu. Ini tidak berarti bahwa kejadian masa kini mengubah kejadian masa lalu, karena yang lalu telah berlalu. Eksperimen tersebut pertama kali dikemukakan oleh John Wheeler, dikenal dengan nama eksperimen pilihan yang tertunda (delayed choice).

Sebelum membahas eksperimen tersebut, mari kita lakukan pemanasan terlebih dahulu dengan membahas eksperimen celah ganda (double-slit). Eksperimen ini, eksperimen pilihan yang tertunda, dan beberapa eksperimen lainnya, menunjukkan bagaimana alam ini berperilaku lebih elegan dibanding pemahaman klasik. Pemahaman klasik ini dibentuk oleh pengalaman sehari-hari yang terbatas pada pengamatan terhadap objek-objek makroskopis yang “menyembunyikan” sifat-sifat mekanika kuantum.

Tapi karena tulisan ini sudah terlalu panjang, saya memutuskan untuk memotongnya menjadi dua bagian. Lanjutannya tunggu tulisan selanjutnya.

***Jika sampai di sini anda masih geli-geli apalagi sampai muntah-muntah, kawan, ada yang salah dengan anda***


  1. ga sabar nunggu lanjutanny. di bukuny hawking yg the grand design kalo ga salah, dia bahas ini jg. bahwa eksperimen kita di masa sekarang, *menentukan masa lalu kita*.

  2. Fisika oh fisika…😆

  3. saya menunggu kelanjutannya baru sy koment, *tapi ini sudah geli2 penasaran gitu kak*😀

  4. wah siapa nih ratna-nya… kalo galih-nya kita tahu siapa wkwkwk

  5. Mana nih rumus cintanya?

  6. […] Tentu saja kejadian masa kini tidak dapat mengubah masa lalu, karena yang lalu telah berlalu. Saya harap pembaca mulai mengerti bagaimana retrospeksi masa lalu di atas dapat dianalogikan dengan cerita Galih dan Ratna pada artikel sebelumnya. […]

  7. […] dan kaitannya dengan perjalanan waktu dapat dibaca juga di artikel sebelumnya misalnya tautan ini dan […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: